Gambar diambil dari http://www.holland.com/global/thingstodo/typical/
Jika kita melihat kedua gambar di atas, tentunya ada satu hal yang terlintas di kepala kita, yaitu negeri Belanda. Negeri yang terkenal dengan kincir angin dan bunga tulipnya ini merupakan salah satu negara di Eropa yang mengundang banyak perhatian mancanegara, termasuk Indonesia. Belanda atau yang dikenal dengan sebutan Holland memiliki berbagai macam potensi unik. Salah satu potensi tersebut terlihat dari perkembangan teknologi.
Bendungan Afsluitdijk
Selain terkenal dengan kincir angin dan bunga tulip, Belanda juga sering disebut sebagai ”negeri di bawah air”. Hal ini disebabkan karena 20% wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut dan sisa wilayahnya berada pada ketinggian hanya kurang dari satu meter di atas permukaan laut.[1] Uniknya, wilayah yang berada di bawah permukaan laut dapat bertahan karena adanya bendungan. Salah satu bendungan tersebut adalah bendungan Afsluitdijk. Bendungan yang memiliki panjang 32 kilometer dan lebar 90 meter ini dibangun pada 28 Mei 1932.[2] Perlu diketahui pula bahwa pembangunan bendungan ini berlangsung kurang lebih selama tiga tahun. Inilah salah satu bentuk perkembangan teknologi yang dimiliki oleh Belanda.
Bendungan Afsluitdijk. Gambar diambil dari http://images.google.co.id/images
Melalui bendungan Afsluitdijk, ada tiga manfaat yang dapat diperoleh. Pertama, keberadaan bendungan ini tentunya menjaga keberlangsungan negeri tersebut. Dengan ketinggian sekitar 25 kaki (7.25 m), bendungan ini bisa melindungi 21% populasi yang mendiami wilayah di bawah permukaan laut dari seluruh jumlah populasi belanda.[3] Jika tidak ada bendungan ini, daratan di sekitarnya tentu sudah tertutup oleh air laut. Itulah mengapa inovasi seperti ini sangat penting bagi negeri kincir angin tersebut karena hal itu secara langsung mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitarnya. Kedua, dengan adanya bendungan, Belanda bisa mengembangkan teknologi water management. Bentuk water management yang dikembangkan lewat bendungan ini adalah blue energy. Pada penerapannya, blue energy atau disebut juga Energi Osmotik dapat dilakukan dengan dua metode: Reverse Electrodialysis (RED) dan Pressure Retarded Osmosis (PRO). Belanda lebih memilih metode pertama (RED) karena dinilai lebih menjanjikan untuk pengekstrakan energi dari perbedaan elektrolit antara air laut dan air sungai.[4] Selain itu, teknik blue energy seperti ini juga membawa dua keuntungan, yaitu efisiensi dan ramah lingkungan. Efisiensi dengan teknik ini terlihat dari kemampuan menghasilkan listrik hingga 6000 MW, dimana ini cukup untuk 1.500.000 rumah tangga dengan asumsi per rumah tangga mendapat kapasitas daya 4000 Watt. Dari segi biaya, tarif listrik blue energy adalah sebesar EUR 8 sen/KWh yang mana ini lebih murah daripada penggunaan listrik tenaga angin dengan tarif sebesar EUR 10,3 sen/KWh.[5] Penggunaan blue energy juga bersifat ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil dan listrik yang dihasilkan tidak mengeluarkan emisi CO2, NOx dan SOx, dimana gas-gas tersebut merupakan gas rumah kaca, sehingga penggunaan blue energy lebih sustainable.[6]
Blue energy. Gambar diambil dari http://www.stichtingmilieunet.nl/andersbekekenblog/
Manfaat ketiga dengan adanya bendungan ini adalah sebagai objek wisata. Pariwisata merupakan salah satu sektor andalan bagi Belanda. Setiap tahun, ada sekitar sepuluh juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke negeri penghasil cokelat ini.[7] Berkaitan dengan bendungan Afsluitdijk, faktor utama yang menjadi daya tariknya adalah pemandangan laut utara yang bisa dinikmati sepanjang 32 kilometer di atas bendungan. Selain itu, di atas bendungan Afsluitdijk juga berdiri sebuah monumen yang bertuliskan ” Bangsa yang hidup, membangun masa depannya”. Gagasan inilah yang menjadi dorongan bagi negara kincir angin ini untuk tetap survive hingga saat ini.
Monumen Afsluitdijk. Gambar diambil dari http://static.rnw.nl/migratie/
Holland: Advanced Technology, Environmental Friendly
Pada umumnya, kemajuan teknologi di suatu negara sering dikaitkan dengan permasalahan lingkungan. Gagasan ini muncul dari realita yang dialami saat ini, dimana semakin pesat teknologi yang dimiliki, maka identik dengan semakin banyak polusi yang dihasilkan karena polutan itu sendiri berasal dari produk-produk teknologi, seperti kendaraan bermotor dan mesin-mesin pabrik. Namun, hal ini tampaknya tidak berlaku bagi negara yang khas dengan bunga tulipnya ini.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kemajuan teknologi yang dilakukan Belanda diselaraskan dengan kualitas lingkungan hidupnya. Pemanfaatan tenaga angin dan blue energy menjadi contoh konkret upaya Belanda dalam menerapkan inovasi yang environmental friendly. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Carbon Dioxide Information Analysis Center, Belanda merupakan negara penghasil karbon terendah, yaitu sekitar 0.6% dari total keseluruhan emisi karbon.[8] Ini menunjukkan bahwa Belanda sangat serius dalam permasalahan lingkungan.
Belanda juga terkenal sebagai negara yang sangat peduli lingkungan. Kepeduliannya ini tercemin dari perilaku masyarakatnya sehari-hari. Penggunaan sepeda sebagai alat transportasi darat yang utama membuktikan bahwa masyarakat Belanda sadar terhadap kelestarian lingkungan. Karena jumlah pengguna sepeda melampaui jumlah pemakai kendaraan bermotor, sepeda menjadi identik untuk menggambarkan negeri tersebut. Jika dicermati lebih jauh, sepeda merupakan produk teknologi yang bersifat ramah lingkungan walaupun sifatnya masih sederhana.
Gambar diambil dari http://images.google.co.id/imglanding?q=bersepeda%
Gambar diambil dari http://images.google.co.id/imglanding?q=sungai di belanda&imgurl
Kebersihan lingkungan Belanda juga ditunjukkan melalui kondisi sungai-sungainya. Sampah pada umumnya sangat jarang atau malah tidak ada sama sekali di perairannya. Sungai-sungai tersebut justru dimanfaatkan sebagai prasarana transportasi air. Keuntungan yang didapat adalah polusi yang dihasilkan semakin sedikit dan sarana transportasi ini juga dapat dijadikan sebagai sarana pariwisata. Para turis bisa berkeliling menggunakan perahu sambil melihat bentuk-bentuk rumah yang khas dengan style Eropa. Inilah inovasi-inovasi yang telah diterapkan Belanda, dimana inovasi tersebut pada dasarnya telah memprioritaskan lingkungan.
Pendidikan di Belanda
Inovasi yang terdapat di Belanda tidak lepas dari kualitas pendidikannya. Pemerintah Belanda telah menerapkan sistem penjurusan dimulai dari tingkat dasar dan lanjutan. Para siswa dapat memilih jurusan yang diminati pada jenjang tersebut, antara lain ilmu teknologi, ilmu kesehatan, sosial ekonomi, dan sosial budaya.[9] Hal inilah yang menjadi kelebihan sistem pendidikan di Belanda karena spesialisasi para pelajarnya sudah dipersiapkan sejak awal. Selain itu, kualitas pendidikan di Belanda juga sudah diakui dunia. Ini terbukti dari hasil survei tahun 2009 bahwa ada 4 universitas di Belanda yang masuk dalam 100 besar universitas dunia, antara lain University of Amsterdam, Leiden University, Utrecht University, dan DELFT University of Technology.[10]
University of Amsterdam. Gambar diambil dari http://images.google.co.id/imglanding?q=university of amsterdam&imgurl
Selain berkualitas, pendidikan di Belanda juga multikulturalis dan terbilang cukup murah. Mahasiswa asing yang kuliah di Belanda datang dari berbagai negara, seperti Cina, Indonesia, India, dan Korea Selatan. Dari 601,896 mahasiswa yang kuliah di Belanda tercatat 12.6% diantaranya adalah mahasiswa asing.[11] Keuntungan yang dapat diperoleh dari pendidikan multikulturalis ini adalah mengetahui berbagai macam tradisi dan menambah koneksi dengan berbagai macam orang dari seluruh dunia. Selain itu, biaya kuliah di Belanda juga terbilang cukup murah di antara negara-negara di Eropa. Untuk tingkat S1, besaran biaya kuliah antara 3,500 - 7,000 euro pertahun (sekitar 50 - 101 juta rupiah), sedangkan untuk program S2, biaya yang diperlukan sekitar 4,000 - 15,000 euro per tahunnya.[12] Oleh sebab itu, Belanda telah menjadi negara dengan pendidikan yang ideal.
Kesimpulan
Inovasi yang telah dilakukan di Belanda membuktikan bahwa perkembangan teknologi dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Belanda juga telah berhasil menunjukkan bahwa kemajuan suatu negara berdasarkan perkembangan iptek tidak identik dengan perkembangan tingkat kerusakan lingkungan. Selain itu, inovasi ini juga memberikan manfaat bagi perekonomian Belanda dengan menjadikannya objek wisata. Terlebih, perilaku masyarakat Belanda sendiri telah mendukung bentuk-bentuk ”go green” melalui pemanfaatan teknologinya. Maka dari itu, tidak mengherankan jika Belanda menjadi contoh dalam menerapkan inovasi yang environmental friendly. Hal inilah yang kemudian menjadi daya tarik bagi saya untuk berkunjung ke negeri kincir angin ini supaya dapat melihat langsung inovasi tersebut dan merasakan kehidupan di Belanda.
Referensi
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands
2. http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/belanda/afsluitdijk_75_tahun070528-redirected
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands
4. http://www.nesoindonesia.or.id/home/news-events/news-archive/2008/belanda-sudah-lama-siapkan-blue-energy/
5. http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/24/time/103230/idnews/944295/idkanal/10
6. http://www.nesoindonesia.or.id/home/news-events/news-archive/2008/belanda-sudah-lama-siapkan-blue-energy/
7. http://en.wikipedia.org/wiki/Tourism_in_the_Netherlands
8. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_carbon_dioxide_emissions
9. http://www.ppibelanda.org/index.php?option=com_content&task=view&id=43&Itemid=52
10.http://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/2009/results
11.http://www.nesoindonesia.or.id/home/news-events/news-archive/2010/indonesia-peringkat-kedua-mahasiswa-asia-di-belanda
12.http://studidibelanda.com/2009/12/16/apakah-kuliah-di-belanda-mahal/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar